Friday, June 29, 2007

Duduk di Mobil (Masih Masalah E)

Duh, akhir2 ini gw jadi sensi banget deh ama E. Kayanya tiap hal yang dilakukannya pasti deh gw pandang negatif. Padahal suer deh, gw udah berusaha ga perhatiin, udah berusaha ga negatif thinking, tapi ga tahu napa selalu aja hasilnya yang negatif2. Sebenarnya sih udah dari dulu juga sih banyak hal yang dilakukannya yang bikin gw berpikiran negatif, tapi akhirnya bisa gw abaikan. Ga bagus nih buat kesehatan batin gw....bisa2 gw jadi orang yang pendendam dan akhirnya dibenci orang2 *suh, jangan sampe deh*.

Kaya pagi ini contohnya, kan kita dijemput mobil kantor ber-4 ce, jadinya duduknya yah musti agak dirapat2kan deh, soalnya semua ce duduk di bagian tengah *mobil Kijang*. Nah, si E tuh duduknya kan di pinggir, pas pintu kanan. Dia ga mo duduk lebih pinggir, dan hasilnya si L yang di pintu kiri musti mepet banget deh, sedangkan sisi E sana masih lapang. Gw saking gondoknya sengaja juga deh duduk mepet2 di E, biar dia merasakan sempit dan bisa geser dikit. Dan karena keras kepala *kaya gw nih* si E juga bertahan deh dipepet ama gw, sampe akhirnya udah mo nyampe pabrik baru deh dia geser dikit ke pinggir, jadi posisi duduk gw juga lebih lega. Kebayang ga sih egoisnya dia? Masa orang lain dibiarin duduk sempit2 sedangkan dia lega sendiri di samping pintu kanan?

Semalamnya juga, pas pulang, mo gabung ama orang KIM. Dia juga duduknya lega sendiri. Dari KIM kita semua dibagi menjadi 3 jurusan, dan E musti pindab ke mobil lain. Trus waktu gw bandingkan ama temen lain (LY) yang semobil ama gw dan duduk di bekas tempat E tadi, gw malah lebih lega duduk ama LY. Padahal LY sekarang udah gemuk banget habis lahiran loh, masa sih masih lega duduk ama orang yang gemuk dibandingkan duduk ama E? Artinya hanya ada 2 : 1) E terlalu gemuk, bahkan lebih gemuk dari orang yang habil melahirkan *which is impossible gitu loh, secara fisik dia kan kecil banget*, atau 2) E egois dan sengaja duduk ngelebarin diri *kaya apa sih bisa ngelebarin diri, hihihi*. Nah, bisa nebak sendiri dong mana yang benar?

Sampai kapan sih gw harus ketemu orang yang menjengkelkan seperti ini? Sampai kapan gw bisa bertahan sampe akhirnya gw meledak dan maki2 dia? Duh....ga tahu deh....ga gw banget, tapi ini mungkin aja terjadi jika kelakuan dia makin keterlaluan.

Thursday, June 28, 2007

Anak panas? Mandikan air panas!

Dapat info ini dari blognya Vera www.verahalim.blogspot.com

Memang benar sekali prinsip kompres yang disebutkan di artikel di bawah ini.
Bila anak dalam keadaan panas, maka diperlukan pengeluaran panas dari tubuh agar suhu tubuh menjadi dingin. Untuk meningkatkan pengeluaran panas dari tubuh, salah satu mekanisme yang dipakai adalah dengan cara melebarkan pembuluh darah di kulit sehingga kadangkala kita melihat mereka yang panas sedikit lebih “merah”.

Nah… apabila pembuluh darah yang sudah melebar ini diberikan kompres dingin/alcohol, maka pembuluh darah tersebut akan mengecil kembali sehingga pengeluaran panas akan menurun kembali yang pada akhirnya akan meningkatkan suhu badan. Jadi memang disarankan menggunakan air hangat supaya pembuluh darah tersebut tetap melebar…

Mengenai tempat kompres, diharapkan memang jangan di dahi saja namun kita perbanyak ditempat yang kulitnya tipis seperti leher,ketiak, lipat paha sehingga pembuluh darahnya melebar juga akan makin banyak dan pengeluaran panas lebih efektif.

ANAK PANAS ? MANDIKAN AIR HANGAT !
Ternyata kompres dengan es sudah ketinggalan zaman dan tak efektif. Yang paling pas, gunakan air hangat dan mandikan anak. Selama ini kompres air dingin atau es, lazim diterapkan para ibu saat anaknya demam atau panas tinggi. "Kalau suhunya 37,5 sampai 39 derajat Celcius, cukup pakai obat-obat penurun panas. Tapi kalau sampai 39-40 derajat Celcius, kompres perlu dilakukan untuk membantu menurunkan panas," kata dr. Waldi Nurhamzah, Sp.A, dari FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.
"Penyakit apa pun, dari yang ringan seperti flu atau infeksi ringan, hinggainfeksi berat di susunan saraf pusat atau di otak, dapat menggunakankompres."

JUSTRU TAMBAH PANAS
Zaman dulu, kata Waldi, untuk mengompres umumnya digunakan air dingin atau es. Ternyata cara itu kini sudah ditinggalkan. "Sebab, kalau tubuh dikompres es atau air dingin, suhunya tak turun, malah makin tinggi. Ini terjadikarena mekanisme tubuh yang sedemikian rupa, di mana jika kondisi di luardingin, maka tubuh akan menginterpretasi- kan kalau dirinya kurang panas. Akibatnya, tubuh pun akan tambah panas". Selain itu, efek dingin bisa membuat pembuluh darah di permukaan kulit jadi mengecil. Alhasil, panas yang seharusnya dialirkan oleh darah ke kulit agar keluar, terhalang karena jalannya terhambat. "Kompres dingin juga bisamembuat pusat pengaturan panas dalam tubuh jadi kacau. Saraf-saraf yangdigunakan untuk melihat atau memantau suasana di luar tubuh menangkap kesan, di luar tubuh dingin, sehingga tubuh pun akan bertambah panas."

Kendati kompres dingin sudah tidak lagi dianjurkan karena berdampak negatif, tapi tak sepenuhnya ditinggalkan. "Untuk sejumlah kasus semisal luka memar dan bakar, kompres air dingin masih kerap digunakan. Bahkan air dingin disiram-kan ke tubuh korban luka bakar," jelas Waldi.

BAHAYA PAKAI ALKOHOL
Selain kompres air dingin atau es, kompres alkohol juga amat diakrabi. Biasanya, lanjut Waldi, dilakukan pada pasien di rumah-rumah sakit. Prinsip kerjanya adalah karena sifat alkohol yang mudah menguap. "Untuk menguap memerlukan panas dan panas tadi berasal atau diambil dari tubuh pasien. Nah, diharapkan dengan kompres alkohol, panas tubuh akan berangsur turun." Namun, seiring dengan kemajuan ilmu kedokteran, kompres alkohol sudah mulai ditinggalkan karena dapat membahayakan kesehatan. "Jika alkohol dibalurkanke tubuh, uapnya dapat terhirup si sakit. Ini bisa mengganggu susunan sarafpusat." Selain itu, alkohol pun mudah terbakar, sehingga berbahaya.

AIR HANGAT
Nah, saat ini yang lazim digunakan adalah kompres dengan air hangat atausuam-suam kuku. "Ini cara terbaik untuk menurunkan panas." Sebab, jelas Waldi, kalau suhu di luar tubuh terasa hangat, maka tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu di luar cukup panas. "Dengan demikian, tubuh anak akan menurunkan kontrol pengatur suhu di otaknya, supaya suhu tubuhnya jangan terlalu panas." Jadi, kebalikan dari kompres air dingin, tubuh yang panas akan semakin panas, karena tubuh menganggap di luar suhunya dingin. Walau demikian, cara termudah untuk menurunkan suhu tubuh anak adalah dengan memberinya obat penurun panas. Di rumah sakit pun, pasien yang datang dengankeluhan panas tinggi, tindakan pertama yang dilakukan adalahmemberinya obatpenurun panas. "Kalau sudah dikasih obat tapi panas tetap tinggi, barudikompres. Jadi, kompres bukan untuk keadaan darurat. Ia dipakai untukmembantu menurunkan panas, selain pemberian obat penurun panas." Dengan kata lain, kalau ternyata obat penurun panas yang diberikan dirasakan telah cukup, anak pun tak perlu lagi dikompres.

TETAP HARUS MANDI
Cara mengompres dengan air hangat yang paling efektif, kata Waldi, adalah memandikannya dengan air hangat. "Minimal, itulah yang disebutkan diliteratur asing," katanya. Anak yang sakit harus dimandikan, dicelup, atau dibilas dengan air hangat. "Bukan sekadar melap tubuh atau kepala anak dengan handuk hangat. Kalau perlu, anak yang sakit dimasukkan kedalam bak mandi beri air hangat. Cara ini terbukti sangat membantu untukmenurunkan panas badan anak."

Tak perlu khawatir penyakit anak bakal bertambah parah jika dimandikan dengan air hangat. "Biarkan si kecil main air hangat. Apalagi pada dasarnya anak kecil suka air." Selama ini ada pemahaman yang salah dari para orangtua, bahwa anak sakit tidak boleh kena air atau mandi. Pemahaman tersebut,menurut Waldi, harus disingkirkan. "Itu semua masa lalu. Justru orang tua harus sadar, anak sakit pun, badannya harus senantiasa bersih. Di rumah sakit pun, anak harus mandi. Nah, apalagi di rumah?" Ia juga mengingatkan kulit anak sakit penuh oleh kuman hingga harus tetap mandi agar bersih. Lalu bagaimana kalau anak tak mau mandi dengan alasan lagi sakit? "Ya,pandai-pandainya orang tua membujuk. Memang, anak cenderung malas kena air dingin. Tapi air hangat, anak pasti suka. Kalaupun anak tak mau mandi dikamar mandi, kan bisa dimandikan di tempat tidur."

TEMPAT TEPAT
Kembali ke soal kompres, pada prinsipnya mengompres adalah memberi kemungkinan agar panas yang ada dalam tubuh dapat mengalir keluar. Panas keluar melalui tempat-tempat di mana pembuluh darah besar yang dekat dengan kulit berada, seperti di leher, ketiak, dan selangkangan. "Jangan di dahi karena tak banyak manfaatnya untuk menurunkan panas." Kalau hanya dahi yang dikompres, tutur Waldi, "Yang dingin, ya, cuma dahinya, sementara tubuhnya tetap panas." Cara yang benar adalah meletakkan kompres di tempat yang tepat, yaitu di leher, ketiak, dan selangkangan.

Gaji

Kemarin anby dapat kabar dari sumber yang dapat dipercaya *plus dapat bukti2* bahwa supervisor di CMI *masih grup SM*...gajinya sama besarnya dengan gaji anby. Padahal secara level jelas anby lebih tinggi, dan secara tugas serta tanggung jawab anby lebih berat. Jadinya anby down deh.....bayangkan kalo orang yang jelas2 level kerjanya lebih rendah dari lu dan kerjaannya jauh lebih ringan dapat gaji sebesar lu, kesel kan.

Anby juga jadi bingung musti gimana nyampaiin protes. Kayanya pengen cari kerjaan lain, jadi bisa jual mahal nih ceritanya ke atasannya dia.

Telpon

Ini cerita tentang kejadian kemarin lagi, masih tentang si E yang nyebelin. Gw kan udah bertekad ga mo bantuin dia ngangkat telepon kalo dia ga lagi sibuk. Nah, kemarin pas telpon bunyi, dia lagi ga dimejanya, tapi juga ga lagi kerja. Kayanya sih dia lagi megang2 kertas, trus jalan pelan2 deh ke mejanya *padahal kan harusnya jalan cepat kek buat usahain cepat ngangkat telpon*. Ya udah, gw juga males perhatiin dia, bagusan ngurus urusan gw sendiri. Akhirnya setelah bunyi ke-4, baru dia ngangkat telponnya.

Ternyata yang nelpon salah satu marketing kami. Kayanya langsung ditanyain napa lama banget ngangkat telponnya, soalnya dia menjawab dengan keras, "BIASALAH, GA ADA YANG MO NGANGKAT TELPON, KAYA GA TAHU AJA LU". Bertingkah banget deh. Udah ga sadar kesalahan, malah masih ngomong kuat2. Padahal dia aja ga ngapa2in, melenggak-lenggok aja kog jalan pelan2. BENCIIIIII......

Padahal dulu selalu aja gw yang ngangkat telpon. Kalo gw online baru deh dia terpaksa ngangkat juga. Buset ga tuh? Kerjaan utamanya dia tapi akhirnya gw yang handle, sekarang malah dengan sombongnya ngomong keras2 begitu. Kayanya dirumahnya ga ada cermin deh, jadinya ga pernag ngaca dia.

Wednesday, June 27, 2007

Pemakaman Ko Abeng

Hari ini adalah hari pemakaman Ko ABeng (alm). Menurut jadwal, pemakamannya bakal dilakukan jam 10.00 WIB, di Simpang Tiga, Perbaungan. Kemungkinan saat ini upacara keberangkatan udah dimulai di Angsapura sana.

Mertua dan kami ga bisa ikut mengantarkan Ko Abeng buat yang terakhir kalinya. Gw & anby harus kerja, sedangkan mertua kebetulan umurnya chiong *ada tertulis di papan di angsapura bahwa hari ini chiong ama shio monyet yang 64 tahun dan shio anjing*.

Kemarin waktu nyampe rumah, anby masih merasa sedih kehilangan teman satu2nya di gang. Dia sampe pengen ke rumah Michel & Ricky buat menghibur mereka...tapi akhirnya batal karena kuatir mereka makin sedih. Di saat seperti ini sebaiknya mereka dibiarkan sendiri dulu *anby sampe lamaaa banget berdiri di depan pintu depan, mikir mo kesana atau tidak....sampe akhirnya mutusin sebaiknya ga kesana dulu*.

Selamat tinggal Ko Abeng, semoga baik2 saja di alam sana. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan bisa tabah dalam meneruskan hidup.

Monday, June 25, 2007

Kabar Duka dari Tetangga

Kira2 jam 12.30 tadi dapat telpon dari anby, ngabarin kalo papanya Michel (tetangga depan rumah) meninggal. Dugh...gw kaget deh, soalnya Sabtu masih ketemu dia ngobrol ama tetangga2 pas malam2 kami pulang sekitar jam 7-8, masih sehat. Tadi dapat kabar udah ga ada. Katanya sih meninggalnya kemarin malam, di rumah sakit. Kabar lainnya blon jelas.

Anby pesan supaya kalo bisa cepetan pulang. Yah, moga aja teman2 semobil semuanya pada cepet kelar kerjaannya hari ini, jadi mobil bisa berangkat pulang lebih cepat. Mungkin ntar malam mo ngelayat, soalnya anby dengan keluarga mereka juga udah lumayan dekat, bertetangga sejak kecil. Dan dulu juga Ko Abeng (alm) yang ngajarin anby nyetir (hutang budi nih ceritanya).

Kasian anak2nya masih kecil2. Yang paling gede masih SMU (16 tahun). Moga mereka bisa tabah.

-----------------

Semalam jam 20.45 kami berangkat ke angsapura, tempat Ko Abeng disemayamkan. Melihat istrinya yang terduduk lemas dengan mata sembab, membuat kita semua jadi miris. Kejadiannya mendadak sekali, tidak ada tanda2, tidak ada pamitan *kata anby*...langsung pergi begitu saja.

Sebenarnya malam minggu kemarin, waktu ngumpul2 ama tetangga, katanya sih Ko Abeng udah merasa kurang sehat juga. Trus katanya mo makan obat tidur. Bahkan di hari itu juga anby sempat nawarin rokok ke dia *dari semua tetangga di gang ini cuman dengan dia anby bisa bergaul, orangnya ga sombong*.

Paginya *kata tukang jaga malam*, sewaktu akan berangkat 'hash', dia sempat ngeliat Ko Abeng ngeliatin rumahnya terus. Begitu mo berangkat ntar balik lagi ngeliatin rumahnya...begitu terus berulang2 sebelum akhirnya berangkat. Saat hash, beberapa orang berpencar, dan hanya tinggal Ko Abeng bertiga dengan temannya. Tiba2 Ko Abeng ambruk, dan dibawa ke RS Brastagi, tapi ga ada dokter. Trus dibawa ke RS Kabanjahe, tapi ga tertolong lagi.

Minggu siang kabar ini sampai ke rumahnya...kata tetangga anak dan istrinya langsung nangis keras, bahkan salah satu anaknya sempat nangis di depan pintu rumah kami. Gw sama sekali ga dengar, anby juga. Mungkin saat itu gw lagi mandi dan anby lagi asik dengan gamenya.

Semalam jadi nostalgia kenangan duka dimasa lalu anby, saat papanya juga tiba2 meninggal tanpa pamit. Makanya duka keluarga Ko Abeng bisa terasa banget, soalnya hampir sama dengan yang pernah keluarga anby alamin. Anby jadi bertanya2, kenapa orang2 baik pendek umur *Ko Abeng tutup usia 44 tahun*? Kenapa orang2 jahat panjang umur?

Sabtu Damai

Hari Sabtu gw lewatin dengan damai, hehehe…..Ternyata sikap bermusuhan itu bener2 menyiksa yah? Selama ini gw bisa dikatakan ga pernah bermusuhan ama siapapun. Kalaupun ada itu hanya waktu di Professional Photo Studio, dan kejadiannya hanya ga sampai 1 jam dan setelah itu gw langsung cabut (resign). Jadi ga musti ketemu setiap hari dan ngeliat muka orang yang dibenci. Kalo kali ini gw harus bertahan bertemu setiap hari.

Sabtu sibuk sharing ama Jimmy, teknisi listrik di sini. Pengetahuannya lumayan luas, dan pergaulannya juga begitu. Dia aktif ikut organisasi sih. Dari dia diajari, mungkin aja kebencian gw ama E disebabkan adanya kemiripan sifat kami. Katanya sih, biasanya musuh kita itu merupakan cermin diri kita sendiri. Apa yang kita tidak sukai dari dia biasanya juga demikianlah sikap kita. Jadi, supaya bisa berteman kembali kita harus merubah diri kita, bukan merubah diri musuh kita.

Ga tahu deh, dalam masa yang masih panas2nya sekarang ini, gw masih ga bisa nerima hal ini. Gw masih ga rela merubah diri gw untuk berteman dengan dia (seandainya yang dikatakan Jimmy benar). Ntahlah, mungkin suatu hari nanti *soalnya gw juga pecinta damai*, tapi ga sekarang ini, ga disaat gw masih marah begini.

Sebisa mungkin hubungan pertemanan hanya sebatas kerjaan, jangan lebih dalam lagi deh. Malas kalo bermasalah begini. Cape hati.